Rabu, 30 Oktober 2019

Sejarah Singkat Pendirian Yayasan

Sejak masjid Soebono Mantofani dibangun dan diresmikan tahun 1994, terlebih dalam acara peresmiannya dihadiri oleh Menteri Riset dan Teknologi (Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie), Menteri Agama (Dr. Tarmidzi Taher) dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Ir. Azwar Anas) ---menteri-menteri kabinet saat itu--- masyarakat desa Jombang dan sekitarnya telah memberikan tanggapan positif akan hadirnya lembaga/institusi yang akan membantu masyarakat dalam pembangunan pendidikan (terutama pendidikan keagamaan saat itu), dakwah dan sosial.

Setelah masjid Soebono Mantofani diresmikan, diselenggarkan pengajian al-Qur'an yang diperuntukan bagi anak-anak usia 7 – 12 tahun yang bertempat tinggal di sekitar Masjid. Dengan nama lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Soebono Mantofani, al-Hamdulillah, sebanyak + 30 orang menjadi santri pertama pengajian al-Qur'an tersebut hingga berjalan 6 bulan jumlah santri pengajian bertambah menjadi + 300 orang. Bagi para ustadz yang saat itu pengelola sekaligus pengajar merasa kagum atas respon dan partisipasi masyarakat dengan ---baru hadirnya--- sebuah masjid Soebono Mantofani. 

Upaya untuk mensyiarkan peran serta tujuan pendirian masjid dan pengajian terus dilakukan dengan cara melakukan konsolidasi dengan masyarakat desa Jombang dan sekitarnya. Diadakanlah sebuah perhelatan yang cukup besar yaitu mengadakan acara "Sillaturrahmi Pengurus Masjid dan Pelatihan Manajemen Masjid se-kabupaten Tangerang". Dalam suatu dialog antara peserta yang dipandu oleh Drs. KH. Efendi Zarkasyi, diperoleh informasi yang jelas bahwa masyarakat masih membutuhkan hadirnya sebuah lembaga/institusi yang dapat membantu pembangunan pendidikan dan syiar agama Islam di desa Jombang dan sekitarnya, terutama lembaga pendidikan formal yang bukan saja menerapkan kurikulum pengetahuan umum tetapi juga mengajarkan dasar-dasar pemahaman agama Islam dan praktek ibadah sehari-hari.

Setelah satu tahun pengajian al-Qur'an di Masjid Soebono Mantofani berjalan, jumlah santri pengajian bertambah menjadi + 813 santri yang terdiri dari anak usia 5–18 tahun. Mereka mengikuti pengajian al-Qur'an mulai dari mempelajari buku Iqra' hingga mampu membaca al-Qur'an sesuai dengan ilmu Tajwidnya. Belajar tentang tata-cara berwudlu yang benar, sholat dan ilmu-ilmu agama Islam yang lain.

Adapun jadwal belajarnya diatur sesuai dengan waktu luang yang dimiliki santri setelah mereka sekolah di sekolahnya masing-masing. Waktu belajar dibagi menjadi 4 bagian, Pagi, Siang, Sore dan Malam. Para santri dinyatakan telah lulus mengikuti pengajian bila mereka sudah pandai membaca al-Qur'an dan mempraktekkan tata-cara ibadah sehari-hari; wudlu, tayammum, sholat fardlu, sholat-sholat sunnat dan mengetahui dasar-dasar akidah dan akhlak Islam.

Dengan dasar penyelenggaraan pengajian tersebut di atas, masyarakat merasa puas dan memberikan respon yang sangat positif dengan kehadiran Masjid Soebono Mantofani dan kegiatan Pengajian yang diselenggarkannya. Permintaan Masyarakat pun kemudian berkembang yaitu agar Yayasan Soebono Mantofani mendirikan lembaga pendidikan yang bersifat formal mengikuti kurikulum pemerintah namun tidak melupakan sistem pendidikan/kurikulum khasnya yaitu pendidikan ilmu-ilmu agama Islam untuk para siswanya mulai dari pendidikan dasar-dasar ilmu agama Islam hingga penanaman akidah dan akhlak muslim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ini Logo YSM